Friday, 30 September 2016

FLP YANG MENGUBAH HIDUPKU


Oleh : Suparto
usai Parade Baca Puisi di area CFD Solo
Saya mengenal dan bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) sekitar dua tahun lalu. Meski sudah tigapuluhan tahun banyak membaca buku,  tetapi nama FLP hanya sekilas saya kenal. Awalnya, ketika seorang teman, lulusan S2 Universitas Sorbonne Paris, Prancis, mengajak saya bergabung di FLP Cabang Solo Raya, saya langsung mengiyakan. Saya tertarik untuk mengenal kiprah organisasi komunitas kepenulisan itu, dan terlibat didalamnya. Mulailah saya  menemukan dunia baru yang ikut mengubah warna hidup saya, di usia hampir enam puluh tahun.  

***
Kegiatan FLP Solo Raya yang pertama saya ikuti berlangsung di tempat sangat sederhana, di  halaman rumah kuno, di belakang Gedung Toko Gramedia Solo. Waktu itu, para peserta duduk melingkar di atas tikar, mendengarkan uraian tentang dunia kepenulisan yang disampaikan oleh Sekretaris FLP Solo Raya, Taufiqurahman yang dikenal dengan nama pena Opik Oman. Kegiatan hari itu diisi juga dengan bedah karya anggota FLP, baik fiksi mauppun non fiksi.

Setelah itu, hampir semua pertemuan atau kegiatan saya ikuti. Semua tugas dan kewajiban berusaha saya penuhi, meski saya menjadi peserta tertua. Karena tempatnya berpindah-pindah, untuk lebih mudah menjangkau, saya harus menempuh perjalanan sejauh 30-an kilometer dari rumah saya di Sragen  dengan mengendarai sepeda motor, atau naik bus dan naik ojek. Namun saya tetap semangat mengikutinya. 

Di FLP Solo Raya saya mendapatkan banyak kesempatan mengenal FLP lebih dalam. Tentang tokoh-tokohnya, karya-karyanya, dan peran penting FLP untuk ikut mengubah dunia ke arah yang baik. Akhirnya mata, hati dan pikiran saya mulai terbuka tentang sesuatu yang sangat prinsip, bukan hanya menyangkut diri sendiri, namun juga tanggung jawab untuk memikirkan nasib masa depan bangsa dan dunia melalui tulisan.

“FLP harus bangkit kembali untuk memainkan peran penting dalam perang peradaban di era teknologi informasi. Kita harus berani berkarya untuk melawan media mainstream yang sudah sedemikian gila menyerang dan merusak tata kehidupan bangsa yang bermoral saat ini.”

Itu adalah salah satu pesan tokoh senior FLP, Afifah Afra, saat kami mengikuti pertemuan di rumahnya, di kampung Kadipiro Solo.  Dalam beberapa kali pertemuan, Afifah Afra yang punya nama asli Yeni Mulati itu sering dihadirkan untuk memberikan pelatihan sekaligus motivasi kepada para peserta.

     Sementara ada renungan lain yang terus saya ingat disampaikan Rianawati dan Ranu Muda, senior di FLP Solo. Pesan ini menjadi sebuah refleksi mendalam mengenai perjalanan dan eksistensi FLP Solo. Riana meminta teman-teman FLP Solo Raya untuk terus berkiprah dan berkarya di tengah situasi “gawat” yang diciptakan para penulis liberal.
“Teman-teman FLP harus segera bangkit dan terus melahirkan karya yang mencerahkan. Bukan karya yang meracuni!” tegas Riana, seorang pegajar matakuliah Sastra di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS. 
Sedangkan Ranu Muda, seorang jurnalis, banyak mengungkap fakta betapa kekuatan media besar yang dikendalikan oleh segelintir orang telah membuat Indonesia dan dunia tidak berdaya. 

      “Kita harus sadar dan segera bangkit, karena faktanya seperti itu. Mereka begitu massive menebar fitnah, sementara kita tidak berdaya,” ungkap Ranu Muda serius

Dalam perjalanan sekitar dua tahun, disamping  mulai berlatih menulis karya fiksi, saya lebih banyak menyebarkan informasi berbagai kegiatan FLP Solo Raya dalam bentuk karya jurnalistik. Beberapa karya jurnalistik saya itu sebagian tersebar di akun facebook flp solo raya, www.flp.or.id dan media panjimas.com, disamping akun pribadi.

Melalui informasi tersebut, FLP Solo Raya yang dalam beberapa tahun mengalami kondisi, yang disebut ‘lesu darah’ mulai bergairah lagi.

Dalam dua tahun terakhir, ada beberapa kegiatan fenomenal yang diharapkan mampu membangkitkan dunia kepenulisan di wilayah Solo Raya. Diantaranya, menyelenggarakan Anugerah Pena, Curhat Self Publishing, Workshop Menulis Kreatif, dan Bedah Karya secara rutin. Kegiatan lain yakni Parade Baca Puisi, launching Buku Antologi Puisi dan kunjungan ke penerbit, pelatihan rutin tentang jurnalistik dan lomba karya fiksi, serta mengisi siaran dialog interaktif di beberapa Radio.

Lewat kegiatan FLP, saya bisa bertemu dan mendengarkan langsung kisah proses kreatif para penulis produktif. Seperti Afifah Afra yang sudah melahirkan lebih dari 50 karya buku fiksi dan non fiksi. 
Ada Ungu Lianza,  yang juga dikenal sebagai penulis muda produktif. Wanita bernama asli Mallina Ika MZ kelahiran Klaten tahun 1985 ini sudah melahirkan karya 30 judul buku, sebagian besar berupa karya  fiksi. Novel karya Ungu berjudul Here We Are yang berkisah  tentang persahabatan tiga orang remaja, bahkan mendapat respon pembaca cukup luas.
             
          Saya pun bertemu dengan Mell Shaliha, yang mampu melahirkan karya novel fenomenal berjudul The Dream In Taipei City di tengah kesibukannya menjadi TKW di Hongkong. Dan juga bertemu Shinta Yudisia yang kini menjadi ketua FLP pusat, saat keduanya menjadi pembicara dalam kegiatan workshop nasional di UNS.
         Dan masih banyak lagi orang-orang FLP  yang memotivasi hidup saya untuk berani menuliskan gagasan yang menginspirasi dan mencerahkan. Tulisan yang mampu mengubah kehidupan saya dan orang lain. Yang paling saya rasakan, di usia yang tidak muda lagi ini, saya masih tetap bersemangat untuk terus menulis, sesuatu yang selama ini tidak bisa saya lakukan.  
***
Bersama Mell Shaliha dan Shinta Yudisia
Dari semua hal yang saya ungkapkan di atas, ada pesan penting yang saya pegang, yakni “masuk dan bergabunglah dalam komunitas kepenulisan seperti  FLP agar terpacu untuk berkarya. Karya yang bisa mengubah kehidupan dirimu dan dunia ke arah yang lebih baik.”  

-----

(Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba essay “Aku dan FLP”)


baca puisi di Solo Muslim Fair

pertemuan di rumah Afifah Afra

bersama Ungu Lianza

acara Anugerah Pena
siaran di Hiz FM Solo

4 comments: